UNTUK YANG TERLUKA, UNTUK YANG TAK UTUH

“Hujan yang tenang dan hati yang masih bimbang”

Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi...

Pedih dari last child mengiringiku menggunting isolasi-isolasi kecil, kertas-kertas sudut, dan beberapa hiasan sederhana. 

“Aku memasang kembali foto-foto itu, bukan karena aku ingin kita kembali lagi. Tapi aku hanya ingin bahagia, aku memilih untuk bahagia.”

Aku membuka kembali buku-buku lama itu, foto-foto lama itu, tiket-tiket bioskop usang itu. 2 tahun sudah berlalu.

Tolong! Siapapun! Berikan aku buku yang bisa menunjukan tata cara untuk bahagia! Tunjukan kata-kata bijak yang bisa menuntun langkah perlangkah untuk bahagia! Tunjukan! Aku ingin bahagia. 

Tapi tidak ada yang punya, tidak ada yang tau. 

Seorang laki-laki mengatakan jika dia bisa pulang seusai lama diperantauan dia akan bahagia. Tapi wanita itu bilang jika dia bisa punya anak dia akan bahagia. Lalu mana bahagia? Apa itu bahagia? Kenapa jawaban mereka tidak sama?

“Jika bahagiaku adalah mengingat kembali semua hal-hal indah yang pernah terjadi, kenapa tidak? Aku tau itu akan memperlambatku merelakanmu, tapi memangnya kenapa? Siapa yang mengharuskan untuk buru-buru?”

Kenapa kita harus segera sembuh dari rasa sakit? Bukankah kesembuhan juga butuh waktu?

“Aku paham, jika teman-temanku tau mereka akan khawatir. Tidak apa itu memang bentuk simpati mereka padaku. Jadi aku memilih diam dan menyembunyikannya saja. Tidak semua harus dibuat mengerti. Bahwa hati kadang hanya perlu waktu untuk sembuh sendiri”

Semua orang pernah punya lukanya masing-masing, tapi tentu semua berbeda. Cara mendapatkannya, orangnya, waktunya, kesembuhannya.

“Bagaimana mungkin seseorang baik-baik saja setelah 20 tulangnya patah secara bersamaan? Tidak akan. Tapi mungkin, seseorang rela membiarkannya demi kebahagiaan sebuah kebahagiaan.”

Tidak apa, jika waktu sembuhmu lebih lama dari orang lain. Tidak apa, untuk mengakui jika kamu bergitu bodoh karena tak kunjung mampu merelakan seseorang yang begitu kejam melukaimu. Tidak apa, tidak apa.

Kita punya cara yang berbeda-beda untuk terluka. Kita juga punya cara yang berbeda-beda untuk bahagia.

Kadang, kita bukan tidak tau bagaimana cara untuk bahagia. Tapi kita hanya terlalu penakut untuk menempuh cara itu.


Perlahan, semua akan dapat jawaban. Berilah waktu, waktu. 

Comments

Popular Posts